Fenomena masyarakat yang sangat mengagumi simbol-simbol keagamaan — seperti menempelkan stiker lafaz Allah di mobil, mengenakan atribut bernuansa religius, atau banyak hadir dalam acara keagamaan tetapi tidak sesuai dengan perilaku sehari-hari yang diharapkan menurut tuntunan agama, kini sering menjadi perhatian.
Dalam Islam, Allah mengkritik tindakan seperti ini melalui wahyu-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengucapkan apa yang tidak kamu lakukan?” (QS. Ash-Shaff: 2–3).
Ayat ini menekankan bahwa mencintai agama tidak hanya cukup diungkapkan melalui simbol, tetapi harus dibuktikan dengan kepatuhan menjalankan syariat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh fenomena ini terlihat saat masyarakat berjuang untuk membangun masjid yang megah sebagai simbol kebanggaan kampung, namun kehadiran shalat berjamaah minim, atau ramai merayakan hari besar agama tetapi tetap berperilaku koruptif, suka bergosip, dan enggan membantu orang lain.
Keadaan demikian menimbulkan perpecahan di dalam umat: satu kelompok merasa paling beriman karena simbol-simbolnya, sementara kelompok lainnya menganggap mereka hanya pamer tanpa menerapkan ajaran. Akibatnya timbul tuduh-menuduh, kurangnya rasa percaya, hingga hancurnya persaudaraan. Apa sebabnya ini terjadi? Pertama, terdapat pemahaman agama yang lebih fokus pada aspek fisik daripada aspek spiritual. Kedua, tekanan sosial untuk nampak religius di depan masyarakat.
Ketiga, kurangnya pendidikan karakter yang menginternalisasi ajaran agama sebagai panduan berperilaku, bukan hanya sekadar identitas. Secara etis, fenomena ini buruk karena dapat memunculkan kemunafikan sosial ( nifaq ijtima’i , merusak citra agama yang seharusnya memberikan rahmat, serta memperlebar ruang konflik di antara masyarakat. Solusinya, diperlukan penguatan pendidikan agama yang menyeluruhmenekankan keselarasan antara simbol dan praktik melalui teladan dari tokoh agama, dakwah yang menekankan akhlak, serta membangun budaya saling mengingatkan dengan bijaksana seperti yang diingatkan Allah:
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (QS. Adz-Dzariyat: 55).
Apabila simbol bersatu dengan praktik, maka agama akan benar-benar menjadi berkah dan penyatu umat.
Ditulis di Thailand Selatan waktu itu





