Sinopsis:
Kisah ini berlatar di Desa Tepi Sungai, sebuah desa damai yang dihuni warga domba yang rajin dan hidup rukun. Setiap pekan, mereka melewati jalan setapak di tepi sungai untuk menjual hasil bumi ke pasar. Namun, kedamaian itu terusik oleh Pak Buaya, penguasa kebun yang egois dan serakah. Ia memasang aturan sewenang-wenang dengan meminta pajak “lima koin” kepada setiap domba yang ingin lewat. Karena tidak mampu membayar, warga domba terpaksa mengambil jalan memutar melewati bukit terjal. Suatu sore, Pak Buaya jatuh sakit parah. Meski masih terluka oleh perlakuannya, warga domba memilih tidak menolong. Di tengah keputusasaan itu, Pak Singa, kepala desa yang bijaksana, datang dengan penuh belas kasih dan membawanya berobat hingga sembuh.
Kebaikan Pak Singa menyentuh hati Pak Buaya dan membuatnya menyesali keserakahannya. Ia pun datang ke balai desa untuk meminta maaf dan berjanji berubah. Sebagai bukti ketulusannya, Pak Buaya mencabut papan pajak, membuka gerbang kebunnya, dan menjadikannya “Jalur Persahabatan” yang dapat dilalui siapa saja secara gratis. Berkat kepemimpinan Pak Singa, semangat gotong royong, dan ketulusan dalam memaafkan, Desa Tepi Sungai berubah menjadi kawasan yang semakin makmur dan penuh persahabatan. Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan, kasih sayang, dan pengampunan mampu meluluhkan hati serta mengalahkan keserakahan.
| Penulis | : | Arief Darmawan, M. Pd. |
| Prof. Dr. Moh. Erfan Soebahar, M. Ag. |
Copyright©2026 Arief Dermawan, dkk.
Diterbitkan oleh:

Editor : Prof. Dr. Fatah Syukur, M. Ag.
Desain Cover : Chyndy Febrindasari S.Pd., M.A.
Ukuran : 14,8 x 21 cm (A5)
Hal : 103
ISBN : Dalam Proses Pengajuan
Cetakan I : 2026





