Dengan bertambahnya usia, manusia mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis yang secara alami mengurangi kenikmatan hidup. Ilmu pengetahuan modern menjelaskan bahwa penuaan terjadi akibat proses biologis seperti kerusakan seluler, pengurangan produksi kolagen, penurunan fungsi organ, serta perubahan hormonal. Teori telomere shortening (pemendekan telomer) menyebutkan bahwa semakin sering sel membelah, semakin pendek telomer pada kromosom, hingga akhirnya sel tidak mampu memperbaiki diri lagi.
Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap penyakit dan menurunnya kemampuan fisik. Kenikmatan duniawi seperti rasa makanan, keindahan pandangan mata, atau daya pikir tajam menjadi berkurang seiring waktu. Fakta ini membawa kita pada kesadaran bahwa dunia hanyalah sementara, dan semua kenikmatannya pun bersifat fana.
Dari perspektif psikologi Barat, teori Erik Erikson tentang tahapan perkembangan manusia menjelaskan bahwa di usia lanjut, individu memasuki fase “integritas vs. putus asa”. Pada fase ini, manusia mulai merefleksikan hidupnya dan merasakan makna yang lebih dalam tentang eksistensi diri. Namun, dengan semakin berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya risiko kesendirian, banyak lansia yang merasa terasing dan kehilangan makna hidup.
Ini menjadi titik awal untuk memahami bagaimana kematian dan alam kubur yang sunyi adalah bentuk kesendirian tertinggi. Dalam konteks iman, hal ini mengingatkan kita pada firman Allah: “Kamu datang kepada Kami sendirian sebagaimana Kami ciptakan kamu pertama kali; kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-An’am: 94). Manusia pada akhirnya akan berdiri sendiri di hadapan Allah tanpa pembela.
Oleh karena itu, kesadaran akan kematian dan alam kubur harus dipandang sebagai motivasi untuk mempersiapkan bekal akhirat. Dunia ilmu pengetahuan bisa menjelaskan proses penuaan, tetapi hanya agama yang memberikan jawaban atas tujuan hidup dan makna kematian. Persiapan ruhani seperti dzikir, taubat, dan ibadah menjadi penting agar jiwa siap menghadapi alam barzakh.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan paling baik mempersiapkannya.” (HR. Ahmad). Dengan memadukan pemahaman ilmiah dan spiritual, manusia dapat menjalani usia tua dengan ketenangan batin, serta takut dan percaya kepada Allah SWT, Sang Penguasa Akhirat.
Maka dari itu, saat ini kita harus mulai membiasakan diri untuk tidak hanya memperhatikan kesehatan jasmani, tetapi juga merawat keimanan dan kesiapan rohani. Tidak perlu menunggu tua untuk mulai memikirkan akhirat, karena kematian bisa datang kapan saja. Perbanyak dzikir, istighfar, taubat nasuha, serta amal shalih yang ikhlas karena Allah. Kita juga harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama, tidak melupakan keluarga dan orang-orang yang masih peduli pada kita, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah-lah tempat kembali yang hakiki. Dengan demikian, kita akan menjalani hidup dengan persiapan yang utuh, baik untuk dunia maupun akhirat.
Nasikhin, M. Pd.
Dosen LB UIN Walisongo Semarang





