Kata-kata memiliki kekuatan untuk membentuk identitas dan persepsi diri seseorang melalui pengaruh bahasa terhadap pikiran, labeling, komunikasi, interaksi sosial, dan budaya. Kata-kata positif dapat membangun kepercayaan diri, sedangkan kata-kata negatif dapat merusak harga diri. Dengan demikian, kata-kata dapat mempengaruhi proses kognitif, emosi, dan perilaku seseorang, membentuk identitas dan persepsi dirinya.
Dalam konteks ini, Sunnah beristigfar setiap pagi dapat membantu membentuk identitas yang positif dengan cara mengakui kesalahan dan membersihkan diri dari dosa. Dengan beristigfar, seseorang dapat memulai hari dengan hati yang bersih dan pikiran yang positif, sehingga dapat membentuk persepsi diri yang lebih baik dan meningkatkan kepercayaan diri. Istigfar juga dapat membantu mengurangi pengaruh kata-kata negatif dan menggantinya dengan kata-kata positif, sehingga membentuk identitas yang lebih baik.

Beristigfar dapat berpengaruh terhadap perilaku dan rejeki seseorang karena dengan mengakui kesalahan dan membersihkan diri dari dosa, seseorang dapat meningkatkan kesadaran diri, mengurangi stres dan kecemasan, serta membersihkan hati dan pikiran untuk menerima rejeki dan kesempatan baru. Dengan demikian, beristigfar dapat memiliki pengaruh positif terhadap perilaku dan rejeki seseorang, baik secara spiritual maupun material.
Rasulullah SAW sendiri mencontohkan kebiasaan beristigfar dengan beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali, menunjukkan pentingnya amalan ini dalam membentuk perilaku positif dan meningkatkan kualitas hidup secara spiritual dan material. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali”.
Dengan mencontohkan kebiasaan beristigfar, Rasulullah SAW menunjukkan bahwa amalan ini dapat membantu seseorang membentuk identitas yang positif, meningkatkan kualitas diri, dan membuka diri untuk menerima rejeki dan kesempatan baru. Dengan demikian, Sunnah beristigfar setiap pagi dapat menjadi sarana untuk membentuk identitas yang positif dan meningkatkan kualitas hidup secara spiritual dan material.
Nasikhin,
Pengasuh Ponpes Wahdatul Ulum Internasional




