Rendahnya kekuatan akal dalam kopi tongkat Ali yang saya minum pagi ini
Semarang, 10 November 2025 — Pagi ini, secangkir kopi hitam hangat diserahkan oleh istri tercinta. Aromanya khas, cita rasanya lembut, dan kehangatannya menyejukkan jiwa. Yang menarik, kopi ini bukan berasal dari kedai lokal, melainkan dari Malaysia—dibawa entah bagaimana, tanpa perencanaan rumit, tanpa strategi logistik, bahkan tanpa sekelebat pun pikiran tentang “bagaimana caranya?”. Ia tiba, seperti sebuah takdir kecil yang sengaja dihamparkan oleh Yang Maha Mengatur.
Saya tidak pernah merencanakan untuk “menjemput” kopi ini. Tak perlu menyeberangi Laut Jawa, tak pernah mampir ke bandara-bandara, apalagi negosiasi dengan penjual di Kuala Lumpur. Namun pagi ini, kopi itu ada di tangan saya—masih mengepul, panas, diseduh dengan cinta, dan dinikmati dalam ketenangan. Ini bukan soal kopi. Ini tentang kepasrahan.
Pengalaman sederhana ini mengingatkan saya pada sebuah kebenaran spiritual yang sering dilupakan di tengah hiruk-pikuk dunia akademik dan profesional: bahwa akal rasio manusia, secerdas apa pun, tetap terbatas—sedangkan takdir Tuhan tetaplah menjadi penentu segalanya.
Dan di sinilah letak kedamaian sejati. Banyak orang mengira bahwa keberhasilan, kebahagiaan, dan ketenangan hidup hanya bisa diraih lewat strategi, perhitungan, atau kekayaan materi. Tapi lihatlah: orang yang rajin salat malam, puasa sunnah, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an—meski mungkin tak unggul dalam logika akademis atau tak kaya raya—sering kali hidupnya lebih tenang, lebih syukur, dan lebih ikhlas. Mengapa?
Karena ketenangan bukan hasil dari kecerdasan akal, melainkan buah dari kedekatan kepada Allah.
Ibadah-ibadah sunnah yang mereka lakukan bukan sekadar ritual kosong. Ia adalah bentuk komunikasi spiritual yang terus-menerus memperbarui hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Dalam diamnya sujud tahajud, dalam lantunan ayat Qur’an di subuh buta, dalam dzikir yang tak putus—di sanalah jiwa diberi “jaring pengaman” dari kecemasan, kekecewaan, dan ambisi duniawi yang tak berujung.
Sebaliknya, banyak orang yang “berhasil” secara duniawi—uang berlimpah, jabatan tinggi, prestasi gemilang—namun jiwanya gelisah, hubungannya dengan keluarga kadang retak, hatinya kosong. Mengapa? Karena mereka menempatkan akal dan strategi di atas segalanya, lupa bahwa segala sesuatu—termasuk kesuksesan—berada dalam kehendak Ilahi.
Kita kadang perlu diingatkan bahwa 100 tahun yang lalu, tanah yang dipijak hari ini pernah dimiliki orang lain sebelum kita, dan mereka (yang pernah memiliki harta-harta itu) meninggalkanya tanpa dibawa sedikitpun.
Begitupun, harta yang kita kumpulkan dengan susah payah hari ini, 100 tahun lagi akan menjadi milik orang lain, sedangkan jasad kita sudah dikubur, mungkin nama kita sudah dilupakan, sama seperti ketidaktahuan kita tentang siapa pemilik tanah yang kita pijak hari ini 100 tahun lalu.
Mahasiswa, dengarlah:
Usaha dhohir memang penting. Belajar keras, riset, presentasi, publikasi—itu semua wajib. Tapi jangan pernah meremehkan kekuatan ibadah yang sifatnya ilahiah. Karena Tuhan-lah yang membuka pintu rezeki, memberi kejernihan pikiran sebelum ujian, dan menurunkan ketenangan saat tekanan hidup menghimpit.
Jangan sampai kita terjebak dalam ilusi bahwa “semua harus dikontrol oleh akal”. Kadang, justru ketika kita berhenti memaksakan segalanya dan mulai bersujud dengan tulus, takdir baik datang tanpa perlu dikejar—seperti secangkir kopi dari Malaysia yang tiba di pagi yang tenang.
Ingatlah:
Segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kendali-Nya.
Dan ketenangan sejati bukan milik mereka yang paling cerdas atau paling kaya—
tapi milik mereka yang paling dekat dengan Tuhannya.
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Penulis,
Nasikhin
Dosen Filsafat Kesatuan Ilmu
Program PAI FITK UIN Walisongo Semarang





