Beranda / Uncategorized / Melarang Mahasiswa Menggunakan AI tak akan Mengembalikan Dunia ke Masa Sebelumnya

Melarang Mahasiswa Menggunakan AI tak akan Mengembalikan Dunia ke Masa Sebelumnya

Keberadaan ChatGPT dan teknologi kecerdasan buatan (AI) lainnya ibarat hadirnya listrik di abad lalu. Bagi yang mampu beradaptasi, listrik membuka pintu terang: penerangan, memasak, hingga mendorong inovasi. Namun, bagi yang menolak—seperti penjual damar, sentir, atau lampu minyak tanah—kehadirannya justru dianggap ancaman yang menggerus mata pencaharian. Kini, AI memicu dinamika serupa di dunia pendidikan.

Banyak khawatir bahwa mahasiswa jadi malas berpikir karena mengandalkan AI. Namun, melarang penggunaan ChatGPT di kampus justru terlihat naif. Di satu sisi, dosen mulai menggunakan detektor AI untuk memindai tugas mahasiswa. Di sisi lain, mahasiswa merespons dengan berlangganan Humanizer AI—alat yang sengaja dikembangkan untuk “menyamarkan” jejak tulisan AI. Ironisnya, ini justru memperkuat ekosistem bisnis AI itu sendiri.

Melarang AI tak akan mengembalikan dunia ke masa sebelumnya. Yang terjadi justru mahasiswa semakin kreatif—tapi dalam cara yang salah: mengelabui sistem, bukan membangun integritas akademik.

Solusinya bukan larangan, melainkan bimbingan. Kampus perlu mengajarkan literasi AI secara etis: bagaimana memanfaatkan teknologi ini sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir. Dengan pendekatan berbasis nilai, terutama prinsip akademik dan etika Islam seperti adab al-ilmu, mahasiswa bisa belajar menggunakan AI tanpa kehilangan integritas intelektual mereka.

Di era baru ini, bukan siapa yang melawan AI yang akan menang, tapi siapa yang mampu membimbing generasi muda untuk berjalan beriringan dengannya—secara cerdas, kritis, dan beretika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *