Wahai mahasiswaku,
engkau bukan tamu yang singgah di beranda waktuku.
Engkau adalah bagian dari denyut kehidupanku,
hembusan napas yang menjadikan ilmu ini hidup.
Jika jantungku berdetak karena oksigen,
maka engkaulah paru-paru yang menyalurkan maknanya —
agar kehidupan keilmuan terus bernafas dalam ridha-Nya.
Wahai mahasiswaku,
karena engkau bukan tamu,
aku tak akan rela melihatmu tenggelam dalam samudra kesalahan,
tersesat di tepi pengetahuan yang dangkal,
atau terbelenggu oleh kebodohan yang membatu.
Ketahuilah,
jika aku marah padamu, itu bukan karena benci,
melainkan cinta yang tumbuh dari doa-doa panjang,
cinta yang takut melihat bagian dari jiwaku kehilangan arah.
Dan bila teguranku menyakitimu,
ketahuilah, itu hanyalah cambuk kasih mesra agar engkau kembali sadar.
Aku tidak ingin engkau terlena dalam kesalahanmu,
Karena setiap langkahmu melakukan dosa akupun ikut berfirasat merasakanya
Karena setiap langkahmu adalah cermin tanggung jawabku di hadapan Allah.
Wahai mahasiswaku,
karena engkau bukan tamu,
aku ingin engkau mencintaiku
sebagaimana aku mencintaimu dalam keheningan sujud dan langitan doa.
Tunjukkan cintamu bukan dengan kata,
tetapi dengan kesungguhanmu mencari ridha-Nya,
dengan menapaki jalan ilmu yang benar dan penuh adab.
Percayalah,
aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi gurumu,
maka aku akan jalankan amanah ini sebaik-baiknya —
agar setiap ilmu yang kutanam menjadi cahaya,
dan setiap langkahmu menjadi doa yang kembali kepadaku.
Wahai mahasiswaku,
engkau bukan tamu,
engkau adalah bagian dari komunitas hidupku,
bagian dari perjalananku menjemput cintanya Tuhanku.
Maka aku berdoa,
semoga Allah mencintaimu
sebagaimana Ia mencintaiku
dalam keabadian ilmu yang menuntun kita menuju surga-Nya,
Tempat Akhir yang akan mempertemukan kita





