Darah masih segar. Air mata belum kering. Dan jeritan terakhir seorang gadis muda — “Tolong… jangan… aku takut…” — masih menggema di dinding-dinding kamar kos yang kini menjadi saksi bisu kekejaman cinta palsu.
Dua kasus tragis dalam waktu berdekatan mengguncang hati nurani bangsa: di Surabaya-Mojokerto, seorang pemuda bernama Alvi Maulana (24) tega membunuh dan memutilasi pacarnya, TAS (25), lalu menyebarkan potongan tubuh korban di dua kota. Di Jakarta Timur, mahasiswi berinisial IM (23) ditemukan tewas dengan luka lebam di leher, wajah, dan tangan — dibunuh oleh pacarnya sendiri, FF (16), seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Keduanya bukan korban kejahatan biasa. Mereka adalah korban dari hubungan yang dibangun di atas nafsu, bukan iman. Mereka adalah buah dari hati yang jauh dari Tuhan, dari jiwa-jiwa muda yang lebih memilih bermesraan dengan makhluk daripada Sang Pencipta.
Hati yang Ternoda: Awal dari Kehancuran
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, maka dititikkan di hatinya sebuah titik hitam. Jika ia bertaubat, meninggalkannya, dan meminta ampun, hatinya dibersihkan. Jika ia kembali (berbuat dosa), maka ditambahkan titik hitam itu hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan ‘ar-raan’ yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifin: 14)”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad — hadis hasan)
Inilah titik hitam yang perlahan menggerogoti hati Alvi dan FF. Dosa-dosa kecil yang dianggap remeh — pacaran tanpa batas syar’i, sentuhan haram, khalwat, dan pergaulan bebas — menjadi awal dari kegelapan hati. Ketika hati gelap, akal tak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah. Emosi menguasai, nafsu merajalela, dan akhirnya — nyawa pun melayang.
Masa Muda: Masa Terindah untuk Bermesraan dengan Allah
Allah SWT berfirman:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan dari sulbi istri-istri mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan Tuhan).’”
(QS. Al-A’raf: 172)
Ayat ini mengingatkan kita: jiwa manusia, sejak awal penciptaannya, telah mengakui keesaan Allah. Ada fitrah cinta kepada-Nya yang tertanam dalam dada setiap manusia — terutama di masa muda, ketika energi, semangat, dan rasa ingin tahu sedang memuncak.
Masa muda adalah masa terindah untuk bermesraan dengan Tuhan — bukan dengan pacar yang bisa berubah menjadi pembunuh.
Bayangkan jika Alvi dan FF mengisi masa mudanya dengan tahajud, dengan dzikir, dengan tilawah Quran, dengan majelis ilmu. Bayangkan jika mereka mengganti “chat mesra” dengan istighfar, mengganti pelukan haram dengan sujud syukur, mengganti janji palsu cinta dengan janji taat kepada Allah.
Maka, hati mereka tidak akan gelap. Mereka tidak akan terjerumus ke jurang kehancuran.
Sudah terlanjur, bagaimana cara mensucikan hati yang telah ternoda?
Allah Maha Pengampun, dan pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Berikut cara mensucikan hati yang telah ternoda:
1. Segera Bertaubat dengan Taubatan Nasuha
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(QS. An-Nur: 31)
Taubat yang sungguh-sungguh: menyesal, berhenti dari dosa, bertekad tidak mengulangi, dan mengembalikan hak-hak yang dizalimi (jika ada).
2. Perbanyak Istighfar dan Dzikir
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan…”
(QS. Hud: 3)
Istighfar bukan hanya ucapan, tapi pengakuan akan kelemahan diri dan kebesaran Allah.
3. Tinggalkan Lingkungan yang Mendorong Dosa
Jauhi teman yang menjerumuskan, media sosial yang membangkitkan syahwat, dan tempat-tempat yang memicu maksiat. Ganti dengan lingkungan yang mengingatkan pada akhirat.
4. Isi Hati dengan Cahaya Quran dan Sunnah
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)
Bacalah Quran setiap hari, walau hanya satu ayat. Renungkan maknanya. Biarkan ayat-ayat itu mencuci hati yang kotor.
5. Bangun Hubungan Intim dengan Allah melalui Shalat Malam
Shalat tahajud adalah saat-saat paling intim antara hamba dan Rabb-nya. Di sepertiga malam, saat dunia terlelap, hanya engkau dan Allah yang saling berbisik.
“Dan pada sebagian malam, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra: 79)
Seruan untuk Para Pemuda, Mahasiswa, dan Santri Rahmaniyah
Wahai para pemuda dan pemudi Islam — masa muda kalian adalah investasi akhirat. Jangan biarkan ia terbuang untuk cinta palsu yang berujung penyesalan, bahkan pembunuhan.
Wahai para mahasiswa dan santri — kalian adalah generasi penerus umat. Gunakan energi muda kalian untuk memperdalam ilmu agama, membimbing hati, dan menuntun teman-teman sebaya agar tidak terjerumus ke jurang nafsu.
Ingatlah: cinta sejati bukan pada manusia yang fana, tapi pada Allah yang Maha Abadi. Cinta kepada-Nya tidak akan berakhir dengan air mata, apalagi darah. Cinta kepada-Nya justru akan menghadirkan ketenangan, kebahagiaan, dan kehidupan yang penuh makna — di dunia dan akhirat.
Kembalilah kepada Fitrah
Kasus-kasus tragis ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah alarm spiritual bagi kita semua — terutama generasi muda. Saat hati jauh dari Allah, maka kegelapan akan merambat ke pikiran, emosi, dan tindakan. Dan ketika kegelapan itu menguasai, maka yang muncul bukan cinta — tapi kebencian, amarah, dan kekerasan.
Mari kembali kepada fitrah. Mari isi masa muda dengan cinta yang hakiki — cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena hanya di situlah kita akan menemukan kedamaian sejati.
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 124)
Jangan sampai masa muda kita berakhir dengan penyesalan. Bermesralah dengan Tuhan — sebelum ajal datang menjemput.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Ringkasan pengajian yang disampaikan di Masjid An-Nur, Kota Semarang, Jawa Tengah (Nasikhin, M. Pd)





