Dalam perjalanan hidup manusia, ada satu kebenaran yang tak terhindarkan: usia bertambah, tubuh melemah, kenikmatan dunia mulai menghilang. Masa muda yang penuh gairah dan energi berubah menjadi masa di mana tidur tidak nyenyak, raga tidak sekuat dulu, dan kesenangan-kesenangan yang dulu mudah didapat kini terasa semakin sulit diraih.
Namun, apakah kita pernah merenungkan bahwa pengurangan kenikmatan ini bukanlah sekadar proses alami penuaan? Justru, dalam pandangan spiritual dan filsafat Islam, ini adalah bentuk pelatihan halus dari Allah SWT—sebuah pendidikan jiwa untuk mempersiapkan manusia menghadapi alam yang lebih permanen: alam kubur , dan kemudian hari pembalasan.
- Filsafat Kepergian Nikmat: Pemutusan Ikatan dengan Dunia
Para filosof sufi seperti Al-Ghazali dan Ibn Arabi pernah menyatakan bahwa dunia adalah tempat ujian, dan ujian itu melibatkan tarikan nikmat agar manusia belajar bergantung pada Yang Abadi. Dalam tradisi tasawuf, disebutkan bahwa semakin dekat seseorang kepada akhir hayatnya, semakin banyak pula hal-hal yang biasa ia nikmati akan dilepaskan darinya.
Ini adalah bagian dari tajrid (pembebasan jiwa) dari ikatan materi. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Rabbani:
“Allah mengambil nikmat duniawi dari hamba-Nya bukan karena membencinya, tetapi agar ia beralih mencari keridhaan-Nya.”
Kenikmatan yang berkurang bukanlah hukuman, tapi latihan. Latihan untuk tidak bergantung pada sesuatu yang fana. Ini adalah cara Tuhan mengajarkan kita untuk bersendirian, tanpa sandaran selain-Nya.
- Kalam Allah Swt “tentang Sementara dan Kekal”
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling membanggakan di antara kamu serta berebut banyaknya harta dan anak…”
(Surah Al-Hadid: 57:20)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah bayangan. Ia menipu kita dengan kesenangan yang membuat lalai. Namun, seiring bertambahnya usia, Allah secara perlahan mengangkat tirai ilusi itu, sehingga kita mulai menyadari betapa rapuhnya semua kenikmatan dunia.
Dan dalam Surah Al-Ankabut, Allah berfirman:
“Sesungguhnya dunia itu hanya permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu tanpa meminta sedikit pun darimu.”
(Al-Ankabut: 29:64)
Ayat ini menjadi cermin bagi kita: bahwa semua yang kita kejar di dunia, entah itu jabatan, harta, atau bahkan kecantikan fisik, adalah sementara. Tapi ketika mereka mulai hilang, itulah saat kita diajak untuk kembali kepada Tuhan.
- Kematian Kecil: Hidup di Alam Kubur
Ajaran Islam mengajarkan bahwa alam kubur adalah barzakh , yaitu alam antara dunia dan akhirat. Di sanalah manusia akan sendirian, tanpa teman, keluarga, atau harta. Diriwayatkan dalam hadis bahwa ketika jenazah dikuburkan, maka dua malaikat akan data: Munkar dan Nakir, dan mereka akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang iman dan keyakinan.
Inilah kenapa proses menua, dengan segala pengurangan kenikmatannya, adalah latihan untuk alam kubur. Ketika kita mulai merasakan kesendirian, ketidakberdayaan, dan kehilangan kontrol atas tubuh dan lingkungan, kita sedang dilatih oleh Allah untuk menjawab pertanyaan di alam barzakh.
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani:
“Barang siapa yang tidak merasakan kematian rohani di dunia, maka ia akan mati dalam kesesatan di alam kubur.”
Kematian rohani maksudnya adalah kematian nafsu, kematian cinta dunia, dan bangkitnya cinta kepada Allah.
- Makna Filosofis: Menjadi Sendiri, Tapi Tidak Kesepian
Ada perbedaan mendasar antara sendiri dan kesepian . Manusia modern sering merasa kesepian meskipun dikelilingi orang, karena ia masih bergantung pada makhluk. Tapi seorang mukmin yang telah dilatih oleh Allah, bisa sendiri tanpa kesepian, karena ia tahu Allah senantiasa menyertainya.
Dalam filsafat eksistensialisme, Martin Heidegger menyebut bahwa kematian adalah pengalaman yang sepenuhnya personal. Tidak ada seorang pun yang bisa mati untuk kita. Tapi dalam Islam, pengalaman itu bukan kesepian, melainkan momen paling intim dengan Sang Khalik.
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan pada hari Dia berkata, ‘Jadilah!’, maka terjadilah. Perkataan yang benar adalah milik-Nya. Dan kepunyaan-Nyalah kerajaan pada hari ditiup sangkakala; Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata; dan Dialah Yang Bijaksana, Maha Mengetahui.”
(Al-An’am: 6:73)
Kita dilahirkan sendirian, kita akan mati sendirian, dan kita akan dibangkitkan sendirian. Itulah realitas hidup. Namun, dalam kesendirian itu, kita tidak benar-benar sendirian. Karena Allah Maha Hadir bagi siapa saja yang menghadap-Nya.
Ujian Terakhir Adalah Latihan untuk Akhirat
Usia tua, kesepian, sakit, dan pengurangan kenikmatan bukanlah kutukan, tapi kasih sayang Tuhan yang tersembunyi. Ia ingin kita belajar melepaskan, belajar percaya, dan belajar sendirian dalam ketaatan.
Setiap kali kita merasa lemah, ingatlah bahwa itu adalah undangan dari Allah untuk mendekat. Setiap kali kita kehilangan kenikmatan dunia, itu adalah pengingat bahwa kita sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih abadi.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…”
(Al-Qashash: 28:77)
Jangan pernah merasa sia-sia dalam proses penuaan. Karena setiap detik yang kita habiskan dalam kesabaran, dzikir, dan taubat adalah bekal untuk alam kubur dan kehidupan yang hakiki.
Semoga Allah menjadikan usia kita sebagai ladang amal, dan tidak menyia-nyiakan kita dalam kesendirian. Aamiin.
Penutup Refleksi:
“Tuhan mengambil nikmat dunia dari kita, bukan karena marah, tapi karena Ia ingin kita kembali kepada-Nya. Karena Dialah nikmat sejati yang tak pernah pudar.”
Nasikhin
Pendiri dan Pengasuh Pesantren Wahdatul Ulum Internasional
Pembina Yayasan Pendidikan Haiba Nasywa
Ditulis dengan bantuan AI untuk menyusun kata dan menemukan kalimat yang lebih mudah di pahami





